Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Meneladani pengabdian Mbah Maridjan

Written By Admin on Sunday, November 14, 2010 | 5:57 AM

Mbah Maridjan meninggal dunia. Itulah yang menjadi headline news di berbagai media cetak maupun elektronik pada hari Rabu, 27 Oktober 2010. Juru kunci Gunung merapi tersebut ditemukan oleh tim SAR, dalam keadaan meninggal dunia dengan kondisi sujud.

Sang juru kunci yang bergelar Mas Panewu Suraksohargo itu, mengawali karirnya ketika diangkat oleh Sultan Hamengku Buwono IX sebagai wakil juru kunci pada tahun 1970. Mendampingi ayahnya yang menjadi juru kunci Gunung Merapi. Setelah ayahnya wafat pada tahun 1982, ia diangkat sebagai juru kunci.

Mbah Maridjan adalah seorang yang sederhana dan bersahaja. Sikapnya yang santun dan ramah pada setiap orang. Sehari-hari pekerjaannya adalah pergi ke ladang dan mencari rumput. Di samping rumahnya ada kandang sapi. Sehingga di dalam rumahnya pun masih tercium bau kotoran sapi yang menyengat.


Nama Mbah Maridjan mulai terkenal di Indonesia sejak peristiwa mau meletusnya Gunung Merapi pada tahun 2006. Keberaniannya untuk menaklukkan Gunung Merapi patut dikagumi. Seorang lelaki berumur 80 tahun, dengan berani mendaki gunung yang mau meletus itu. Dikawal oleh dua orang asistennya, pada hari Selasa, 16 Mei 2006, Mbah Maridjan mendaki Gunung yang mau memuntahkan laharnya tersebut. Padahal saat itu Gunung merapi sudah berstatus Awas!

Pada pertengahan bulan Oktober 2010, Gunung Merapi kembali mengeluarkan semburan awan panas dan material. Data yang terekam di alat seismograf Balai Penyelidikan dan Pengembangan Kegunungapian (BPPK), pada tanggal 22 Oktober tercatat terjadi gempa vulkanik sebanyak 55 kali. Ribuan penduduk dihimbau untuk segera mengungsi. Namun Mbah Maridjan dengan enteng berkata, "Ngantiyo piye aku ora mudhun" (Bagaimanapun keadaannya, saya tidak akan turun).

Tidak gila popularitas
Ketenaran Mbah Maridjan tidak hanya di Indonesia, tapi sampai seantero dunia. Pada Piala 2006 yang lalu, pemerintah Jerman bermaksud mengundangnya menghadiri pembukaan Piala Dunia 2006. Dengan tegas ia menolak, "Kalau saya ke Jerman, siapa yang mencari rumput sapi saya", jawab sang juru kunci.

Tidak silau dengan harta
Ketika itu ketenaran Mbah Maridjan bahkan melebihi artis papan atas. Apalagi setelah ia menjadi bintang iklan sebuah produk jamu dengan slogannya "Rosa-rosa!. Setiap hari wajahnya menghiasi layar kaca. Namun semua itu tidak membuat Mbah Maridjan lupa daratan Ia tetaplah seorang abdi dalem yang rendah hati, sederhana dan bersahaja. Bahkan ia tak tahu menahu soal honor. "Tapi soal honor, itu bukan saya yang mengurusi, tapi anak-anak saya, dan juga masyarakat juga menikmati hasilnya", tutur pria bersahaja ini.

Mengabdi kepada masyarakat dengan tulus
Selama 40 tahun ia mengabdi untuk menjaga Gunung Merapi. Walaupun keadaannya yang pas-pasan, tidak menyurutkan semangatnya. Bahkan uang hasil keringatnya sendiri, hasil dari honor iklan juga ia persembahkan bagi masyarakat disekitarnya.

Menepati janji sampai mati
Mbah Maridjan adalah seorang abdi keraton yang sangat patuh. Amanat yang diberikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX dilaksanakannya dengan baik. Bahkan sampai nyawanya pun dipertaruhkan. Inilah contoh abdi sejati.

Sebagai bangsa Indonesia, kita patut menaruh hormat kepada Mbah Maridjan. Sikap dan prinsip yang dimilikinya perlu diteladani. Sebagai "Presiden Gunung Merapi", ia meksanakan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Itulah ciri seorang pemimpin sejati. Seyogyanya, para pemimpin dinegeri ini mencontoh sikap Mbah Maridjan. Seorang pemimpin yang mengabdi kepada masyarakat, bukan malah mengkorupsi uang rakyat. Pemimpin yang menjaga amanat sampai titik darah penghabisan. Bukan pemimpin yang takut kalau jabatannya dilengserkan. Sederhana dan bersahaja. Bukan malah membeli mobil mewah, membangun gedung pencakar langit dan sering melancong ke luar negeri. Tidak gila hormat dan popularitas. Bukan malah menerapkan politik pencitraan untuk mencari popularitas.

Selamat jalan Mbah Maridjan. Seluruh rakyat Indonesia berduka atas kepergianmu. Semoga engkau damai disisiNya. Dan semoga para pemimpin di negeri ini membuka mata, dan mencontoh keteladanan yang telah engkau berikan!

5:57 AM | 0 comments | Read More

Bisnis Demo

Written By Admin on Thursday, September 30, 2010 | 1:30 AM

Di jaman yang serba susah ini, ternyata ada sebuah bisnis yang cukup menjanjikan, yaitu bisnis demo. Di negara demokrasi, demonstrasi sebenarnya adalah sarana penyaluran aspirasi rakyat. Namun seiring perkembangannya, kini demo menjadi sebuah obyek bisnis. Demo tak lagi murni penyaluran aspirasi masyarakat untuk menuntut keadilan, namun banyak sekali demo yang sarat akan kepentingan politik untuk mendukung ataupn menjatuhkan orang-orang tertentu. Para pendemo tidak peduli apakah yang mereka suarakan itu benar atau salah, tahunya hanya teriak-teriak, lalu mendapat bayaran.


Kenapa demo dikatakan bisnis yang menjanjikan, karena pihak yang mempunyai kepentingan tertentu, dan ingin mengerahkan para pendemo, mau mengeluarkan biaya yang besar untuk itu. Sehingga bermunculanlah para makelar demo, yang mengorganisir masa demi kepentingan orang-orang yang membayar mereka. Jumla pembayaran bagi para pendemo pun sangat variatif, tergantung kemampuan dan tugas yang diberikan kepada mereka. Beberapa waktu lalu, ada seorang makelar demo yang diwawancarai oleh sebuah stasiun televisi membeberkan secara panjang lebar mengenai hal ini. Berikut kisaran upah yang diterima oleh para pendemo bayaran:

  • Pendemo pasif : Rp. 10-15 ribu
  • Pendemo yang yang berteriak-teriak : Rp. 25-30 ribu
  • Pendemo yang merusak pagar, melakukan tindakan teatrikal atau semacamnya: Rp. 40-50 ribu
  • Orator demo: Rp. 400-500 ribu
  • Pendemo yang melakukan tindakan anarkis: >Rp. 10 juta

Itulah kisaran harga yang diterima para pedemo bayaran. Jadi kalau ada yang memesan demo dengan jumlah 300 orang, berteriak-teriak, dan melakukan tindakan teatrikal, kira-kira membutuhkan biaya sekitar 25 juta rupiah. Karena selain membayar para pendemo, mereka juga harus membayar upah bagi para makelar, ongkos logistik dll.
1:30 AM | 0 comments | Read More

DPR, para pemalas yang jadi wakil rakyat

Written By Admin on Sunday, August 1, 2010 | 1:30 AM

Anggota DPR seharusnya bisa menjadi contoh yang baik bagi rakyat. Namun faktanya perbuatan para DPR sungguh memalukan. Maka pantaslah kalau Gus Dur dulu menyindir DPR seperti taman kanak-kanak. Yang akhir-akhir ini menjadi berita hangat adalah tentang kemalasan para DPR yang jarang mau menghadiri rapat. Mereka biasa titip tanda tangan saja. Kalau rapat titip tanda tangan, tapi kalau gajian kok tidak dititipkan pada rakyat?

Banyak solusi yang diusulkan untuk mengatasi kemalasan para anggota DPR itu. Salah satu solusi untuk meredam kemalasan DPR adalah adanya sanksi denda. Namun banyak kalangan yang menilai bahwa sanksi denda tidak akan efektif. Karena anggota DPR kebanyakan adalah orang kaya, sanksi denda tidak akan membuat mereka jera. Solusi lainnya adalah penggunaan alat absensi dengan sidik jari. Alat ini dinilai mampu untuk menghilangkan kebiasaan titip tanda tangan. Namun ada sebagian anggota DPR yang merasa dilecehkan jika alat ini digunakan. Korupsi saja tidak malu, kok pakai alat absensi dengan sidik jari malu?

Solusi terakhir adalah pemecatan. Mungkin inilah solusi yang paling tepat untuk mengganjar para anggota dewan yang pemalas itu. Anggota DPR bukan lagi menjadi wakil rakyat yang memperjuangkan nasib rakyat dan mengontrol kinerja pemerintah. Namun mereka telah menjadi pekerja malas yang makan gaji buta. Sebuah lembaga survey menyatakan bahwa penghasilan DPR dalam setahun sekitar 900 juta. Belum termasuk uang rapat dan ceperan lainnya. Mereka tak ubahnya seperti drakula yang menghisap uang rakyat. Pemecatan adalah solusi terbaik untuk mengatasi kinerja buruk para anggota dewan.
1:30 AM | 0 comments | Read More

Fatwa MUI, infotainment haram!

Beberapa waktu yang lalu MUI mengeluarkan beberapa fatwa baru. Salah satu fatwanya yaitu mengharamkan program infotainment atau berita tentang artis. Program infotainment dinilai sarat dengan unsur ghibah dan fitnah. Yang dapat merugikan bagi artis yang diberitakan, juga akan merusak moral bangsa. Setiap hari banyak berita tentang kelakuan bejat para artis yang diekspose secara besar besaran.

Diantara faktor negatif dari infotainment adalah:

  1. Menyebarkan berita bohong. Banyak program infotainment yang menyajikan berita yang tidak sesuai dengan fakta. Berita tersebut sengaja dibuat sensasional untuk menarik perhatian publik.
  2. Mengumbar aib seseorang dan mengganggu privasi. Siapa pun tidak ingin aibnya dibuka untuk umum. Berita infotainment banyak menyoroti kelakuan buruk para artis. Jika perbuatan itu merupakan sesuatu yang berkaitan dengan publik, sah-sah saja diberitakan. Namun terkadang para wartawan infotainment sengaja mencari-cari aib para artis untuk diberitakan. Padahal ada hal-hal tertentu yang memang menjadi privasi seseorang yang harus dihormati.
  3. Merusak moral bangsa. Kelakuan bejat para artis yang diberitakan secara massive akan berdampak buruk bagi moral bangsa. Apalagi jika berita tersebut hanya memberitakan hal-hal buruk, tanpa disertai dengan saran untuk tidak meniru perbuatan tersebut. Misalnya saja kasus video porno Ariel, Luna Maya dan Cut Tari. Semenjak maraknya pemberitaan tentang video porno tersebut, banyak anak-anak yang penasaran ingin menonton video yang tidak sepantasnya ditonton oleh anak dibawah umur. Akibatnya, banyak terjadi kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh anak dibawah umur akibat menonton video tersebut.

Beberapa efek negatif itulah yang melatarbelakangi fatwa haram MUI terhadap infotainment. Namun yang menjadi objek sasaran fatwa ini sebenarnya bukan program infotainment itu sendiri. Namun isi dari program tersebut. Jika sebuah program infotainment menyajikan berita yang faktual, menaati kode etik kewartawanan dan tidak mengandung unsur seperti diatas, maka boleh-boleh saja membuat program infotainment.

Seperti halnya fatwa haram MUI yang lainnya, fatwa haram infotainment ini juga menjadi pro dan kontra. Bagi yang setuju, fatwa tersebut dianggap sebagai solusi agar efek negatif infotainment dapat dikurangi. Fatwa tersebut selaras dengan peraturan kewartawanan. Namun yang tidak setuju berdalih, bahwa infotainment bermanfaat untuk meredam kelakuan buruk para artis. Karena para artis sangat takut jika perbuatan buruk mereka diekspose di infotainment. Ketika ada program infotainment saja, para artis banyak yang berkelakuan buruk, apalagi jika infotainment dilarang? Para artis akan bisa berbuat seenaknya sendiri.

1:27 AM | 0 comments | Read More

Fatwa Haram Merokok

Written By Admin on Sunday, May 23, 2010 | 4:05 AM

Isu tentang rokok mencuat kembali. Tahun lalu MUI (Majelis Ulama Indonesia) mengeluarkan fatwa haram merokok. Sekarang giliran Muhammadiyah yang mengeluarkan fatwa haram meeroko. Tanggal 8 Maret kemarin Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi mengharamkan rokok, bagi siapapun dan dimanapun. Fatwa ini berbeda dengan fatwa MUI yang mengharamkan rokok hanya bagi anak-anak, ibu hamil dan merokok ditempat umum.

Bila ditinjau secara hukum islam, sejak dulu memang sudah ada sebagian ulama yang mengharamkan rokok. Jadi sah-sah saja apabila MUI ataupun Muhammadiyah mengharamkan rokok. Tapi, masalahnya tidak sesederhana itu, banyak aspek yang harus dipertimbangkan. Ada 6,1 juta petani yang menggantungkan hidupnya dari tembakau. Ironisnya ulama tidak pernah memikirkan nasib mereka. Seharusnya sebelum fatwa dikeluarkan, para ulama yang membuat fatwa tersebut juga memberikan solusi kepada para petani, pekerja dan buruh tembakau.

Nabi Muhammad saja yang langsung menerima perintah dari Allah, tidak sembarangan membuat syari’at. Misalnya, masalah khamr/minuman keras. Nabi tidak serta merta mengharamkan minuman keras. Bahkan ketika perintah diwajibkannya shalat, minuman keras masih dihalalkan. Kemudian turun perintah diharamkan khamr ketika shalat. Setelah kadar keimanan para muslimin sudah kuat, dan mereka sedikit demi sedikit sudah bisa menghindari khamr, baru Nabi mengharamkan khamr. Subhanallah.

Sebaiknya ulama kita itu harus banyak-banyak membaca Al-Quran dan mengkaji Hadits, agar bisa mencontoh teladan yang diberikan oleh Nabi, dan tidak seenaknya sendiri membuat hukum. Wallahu A’lam!

4:05 AM | 0 comments | Read More
Grab this Widget ~ Blogger Accessories