Showing posts with label Tasawuf. Show all posts
Showing posts with label Tasawuf. Show all posts

Tanda-tanda cinta kepada Allah

Written By Admin on Friday, October 1, 2010 | 10:36 PM

Orang yang di dalam hatinya telah tumbuh benih-benih cinta kepada Allah, akan memiliki tanda-tanda tertentu. Tanda atau ciri-ciri tersebut bisa berlainan pada tiap orang, tergantung tingkatan cintaNya kepada Allah. Tanda-tanda orang yang mencintai Allah antara lain:

1. Gemetar hatinya ketika disebut nama Allah
Tanda yang pertama adalah gemetar hatinya ketika disebut nama Allah. Hati yang gemetar ini disebabkan oleh beberapa hal, adakalanya disebabkan karena saking takutnya kepada Allah, dan sadar akan kekurangan diri, sehingga menyebabkan hati tergetar. Bisa juga karena kerinduan yang begitu mendalam. Sudah semestinya orang yang jatuh cinta, pasti selalu merindukan kekasihnya. Sehingga ketika ia mendengar nama Allah, entah itu berasal dari suara adzan, bacaan Al-qur’an atau yang lainnya, hatinya langsung bergolak dan memberontak, seakan tak sabar ingin bertemu dengan Kekasihnya.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(Q.S: 8. Al-Anfal: 2)

(yaitu) orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan sembahyang dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah Kami rezkikan kepada mereka.(Q.S: 22.Al-Hajj: 35).

Allah telah menurunkan Perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan Barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun. (Q.S. 39. Az-Zumar: 23)


2. Selalu berdzikir setiap saat
Para kekasih Allah selalu berdzikir sepanjang waktu. Lalu apakah mereka hanya menghabiskan waktunya hanya untuk berdzikir, dan tidak melakukan apa pun? Tidak. Hati para pencinta telah disinari dengan cahaya cinta yang berasal dari hadrat Ilahiyah. Cahaya itu yang akan selalu menuntun untuk berdzikir. Mereka mampu berdzikir dalam keadaan apapun, baik ketika duduk, berdiri maupun berbaring. Apapun aktivitasnya, tidak akan membuat lupa kepada Allah. Sebab dzikir mereka selalu diiringi oleh dzauq, perasaan rindu yang mendalam kepada Allah.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.(Q.S: 3. Ali Imran: 191)

Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. (Q.S 4. Al-Maidah: 103)

3. Sering menangis karena rindu atau takut kepada Allah
Hati yang dirundung rindu pada Kekasih, namun kekasih yang dirindukan tak jua dapat ditemui, akan menyebabkan airmata mengalir. Kerinduan yang mendalam itulah yang menyebabkan para pencinta Allah sering menangis. Juga karena takut, mengingat segala amal yang dilakukan. Sadar diri akan segala kekurangan.

Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu'.(Q.S. 17. Al-Isra’:109

Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.(Q.S: 19. Maryam: 58).

Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud. (Q.S. 17. Al-Isra’:107)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:"Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis kerana takut kepada Allah sehingga susu itu dapat kembali ke teteknya - menunjukkan suatu kemustahilan. Tidak akan berkumpullah debu fi-sabilillah itu dengan asap neraka Jahanam."
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan shahih) [Riyadhus Sholihin hadits ke 447]

Dari Abu Umamah, iaitu Shuday bin 'Ajlan al-Bahili r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:"Tiada sesuatupun yang lebih dicintai oleh Allah Ta'ala daripada dua titisan dan dua bekas. Dua titisan itu ialah titisan airmata kerana takut kepada Allah dan titisan darah yang dialirkan fi sabilillah. Adapun dua bekas iaitu bekas luka fi-sabilillah dan bekas dalam mengerjakan kefardhuan dari beberapa kefardhuan Allah Ta'ala - semacam bekas sujud dan lain-lain." (Diriwayatkan Imam Tirmidzi dan ia mengatakan bahawa ini adalah Hadis hasan). [Riyadhus Sholihin hadits ke 454]

Dari Abdullah bin asy-Syikhkhir r.a., katanya: "Saya mendatangi Rasulullah s.a.w. dan beliau sedang bersembahyang dan dari dadanya itu terdengar suara bagaikan mendidihnya kuali kerana beliau sedang menangis." (Hadis hasan shahih yang diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Tirmidzi dalam asy-Syamail dengan isnad yang shahih)[Riyadhus Sholihin hadits ke 449]

Dari Abu Hurairah r.a. pula, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:"Ada tujuh macam orang yang akan dinaungi oleh Allah dalam naunganNya pada hari yang tiada naungan melainkan naunganNya sendiri - yakni hari kiamat, iaitu imam - kepala atau pemimpin - yang adil. Pemuda yang membesar -sejak kecilnya - dalam beribadat kepada Allah, orang yang hatinya tergantung - sangat memerhatikan -kepada masjid-masjid dua orang yang saling cinta-mencintai kerana Allah, keduanya berkumpul atas keadaan sedemikian itu dan keduanya berpisah atas keadaan sedemikian itu pula, orang lelaki yang diajak oleh wanita yang mempunyai kedudukan dan berparas cantik, lalu ia berkata: "Sesungguhnya saya ini takut kepada Allah," - demikian pula sebaliknya, iaitu wanita yang diajak lelaki lalu bersikap seperti di atas, juga orang yang bersedekah dengan suatu sedekah lalu disembunyikan sedekahnya itu sehingga seolah-olah tangan kirinya tidak tahu apa yang dinafkahkan oleh tangan kanannya dan orang yang mengingat pada Allah di waktu keadaan sunyi lalu melelehlah airmata dari kedua matanya." (Muttafaq 'alaih) [Riyadhus Sholihin hadits ke 448]

4. Mencintai Allah SWT melebihi apapun yang ada di dunia ini
Bagi para kekasih Allah, dunia hanyalah tempat untuk berbakti kepada Allah. Tidaklah pantas menambatkan hati kepada dunia. Yang paling berhak atas hati manusia adalah Allah. Sehingga para kekasih Allah menempatkan cinta kepada Allah di atas segala cinta. Mereka mencintai makhluk Allah hanyalah sebatas menjalankan perintah Allah. Misalnya, mencintai suami atau isteri, orangtua, anak, sahabat dll.


Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itumengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (Q.S. 2. Al-Baqarah: 165)

5. Mencintai Nabi Muhammad dan menjalankan syari’at dan sunnah Nabi
Apabila orang ingin mencintai Allah, maka harus mengikuti jejak tauladan yang telah diberikan oleh Nabi Muhammad. Karena Beliaulah kekasih yang paling dicintai Allah. Tidaklah mungkin manusia dapat menggapai cinta Allah tanpa melalui tuntunan Nabi Muhammad. Jadi, mencintai dan meneladani Rasulullah menjadi syarat mutlak, bagi orang yang mengharap cinta Allah. Apabila ada orang yang mengaku kekasih Allah, tapi perbuatannya menyimpang dari jalan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad, maka orang tersebut bohong! Karena para kekasih Allah yang sejati, selalu meneladani Nabi Muhammad. Setiap yang dilakukan akan selalu dikoreksi, apakah sesuai dengan sunnah Nabi atau tidak. Sehingga terhindar dari jalan sesat yang akan merintangi perjalanan menuju Allah.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S: 3. Ali Imran: 31)

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).(Q.S: 33. Al-Ahzab: 6).

Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:"Ada tiga perkara, barangsiapa yang tiga perkara itu ada di dalam diri seseorang, maka orang itu dapat merasakan manisnya keimanan iaitu: jikalau Allah dan RasulNya lebih dicintai olehnya daripada yang selain keduanya, jikalau seseorang itu mencintai orang lain dan tidak ada sebab kecintaannya itu melainkan kerana Allah, dan jikalau seseorang itu membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah dari kekafiran itu, sebagaimana bencinya kalau dilemparkan ke dalam api neraka." (Muttafaq 'alaih) [Riyadhus Shalihin Hadits ke 374]

6. Cinta kepada keimanan dan membenci kekafiran
Para kekasih Allah sangat mencintai keimanan, dan mmandang indah keimanan. Sehingga segala amal ibadah dilakukan dengan tulus ikhlas, terhindar dari keterpaksaan, riya’ dll. Sebaliknya mereka sangat membenci kekafiran, karena akan membuat mereka jauh dari Kekasih yang dirindukannya. Berbeda dengan orang munafik, yang melakukan ibadah dengan pamrih tertentu, atau hanya sekedar ingin dilihat orang.

Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu 'cinta' kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. (Q.S: 49. Al-Hujurat: 7).

7. Bersikap keras terhadap orang-orang kafir, namun bersikap lembut terhadap orang mukmin, berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut dicela
Para kekasih Allah selalu memperjuangkan agama Islam dengan gigih, tidak rela apabila agamanya diinjak-injak oleh orang kafir. Selalu berjihad dijalan Allah. Jihad tidak selalu berarti perang, karena setiap zaman mempunyai tantangannya sendiri. Jika perang menjadi solusi terbaik, maka mereka tidak akan gentar untuk berperang. Namun tidak selamanya orang kafir menginjak-injak Islam dengan peperangan. Para kekasih Allah akan selalu berjihad mempertahankan Islam sesuai dengan konteks tantangan zaman, dan sesuai bidang mereka masing-masing.

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.(Q.S: 5. Al-Maidah: 54).
8. Istiqomah dalam beribadah dan bertaubat
Jika ingin menuju Allah, istiqamahlah jawabannya! Para kekasih Allah selalu menjalani segala amal ibadah dengan ikhlas dan istiqamah. Selalu memperbaiki kekurangan, dan bertaubat jika berbuat dosa.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqomah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.(Q.S: 46: Allah SWT-Ahqaf 13).

Katakanlah: "Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan yang Maha Esa, Maka tetaplah pada jalan yang Lurus menuju kepadanya dan mohonlah ampun kepadanya. dan kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang mempersekutukan-Nya. (Q.S. 41. Fusshilat: 6)

9. Menganggap besar dosa sekecil apapun, dan menganggap sedikit amal yang telah diperbuat.
Para kekasih Allah sangatlah berhati-hati dalam bertindak. Dosa sekecil apapun yang dilakukan, maka akan segera bertaubat.

(ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar. (Q.S. 24. An-Nur: 15)

10. Merasakan dzauq
Dzauq adalah sebuah perasaan rindu, rindu yang bersatu padu. Perasaan ini muncul apabila seseorang telah ditarik oleh Allah dengan cahaya waridNya. Akibat yang ditimbulkan oleh dzauq sangat bermacam-macam. Adakalanya sangat senang, tetapi kadang sangat sedih. Apabila dzauq ini dituruti, maka terkadang akan membawa kepada sakar. Sakar adalah mabuk cinta. Nabi Muhammad sangat sering mangalami dzauq, pernah suatu hari, ketika sedang asyik dalam dzauq, ‘Aisyah menghampiri beliau. Lalu Nabi bertanya,
“Engkau siapa? “Aisyah”
“Aisyah siapa? “Aisyah putrid Abu Bakar Shiddiq”
“Siapa Abu Bakar Shiddiq”? Abu Bakar Shiddiq adalah sahabat Nabi Muhammad.
Kemudian Nabi terdiam. Aisyah tahu bahwa ketika itu Nabi Muhammad ‘sedang tidak dengan dia’. Karena Nabi sedang berada dalam kondisi dzauq yang sangat.
10:36 PM | 0 comments | Read More

Cinta Sejati

Written By Admin on Sunday, January 17, 2010 | 2:21 PM

Apakah cinta sejati itu? Cinta sejati hanyalah kepada Allah. Lalu apakah manusia tidak boleh mencintai makhluk Allah, misalnya orangtua, anak, suami, harta benda dll?. Boleh saja, tetapi cinta kepada makhluk Allah hanya sebatas melaksanakan perintah Allah, bukan malah menjadi perintang. Allah menciptakan segala yang ada di dunia ini dengan sangat indah. Dan manusia pun boleh mencintai makhluk Allah, selama tidak melebihi kecintaan kepada Allah dan RasulNya.

Katakanlah: "Jika bapa-bapa , anak-anak , saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNya dan dari berjihad di jalan nya, Maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.(Q.S. At-Taubah:24)


Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Allah). (Q.S. Al-Ahzab:6)

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri rasul. yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, (Q.S. At-Taubah:120)

Cinta kepada Allah tidaklah sama dengan cinta kepada selainNya. Allah tidak akan mau di duakan. Suatu hari Dzun Nun Al-Mishry bertemu dengan seorang rahib, lalu Dun Nun bertanya kepada rahib tersebut, “Apakah arti cinta sejati menurut pendapat Anda? Lalu rahib itu menjawab, “Cinta sejati tak mau dibelah dua. Kalau inta telah tertumpah kepada Allah, tidak ada lagi cinta kepada selainNya. Dan jika cinta tertumpah kepada selain Allah, tidaklah mungkin dapat dipersatukan cinta itu dengan cinta kepada Allah. Oleh karena itu, renungkanlah siapa sebenarnya yang kau cintai”. Kemudian Dzun Nun bertanya lagi, “Lalu apakah sarinya cinta?”, Rahib itu menjawab, “ Akal pergi, airmata jatuh, mata tek mau terpejam, rindu dendam memenuhi kalbu, dan rela berbuat apapun yang dikehendakiNya”.
Beberapa tahun kemudian, Dzun menunaikan haji. Ketika berada di Mekah, beliau bertemu dengan rahib tersebut, yang ternyata juga sama-sama sedang menunaikan ibadah haji. Rahib itu berkata, “Hai Abul Faidh! Janji perdamaian telah ditanda tangani, pintu pun telah terbuka. Allah telah menganugerahiku jalan Islam. Sebab apa yang kukatakan kepadamu beberapa tahun yang lalu, adalah kata-kata yang tidak dapat dipikul oleh langit dan bumi, hanya dapat dipikul oleh orang yang tabah!”.
Rasulullah pernah bersabda:

Dari Anas r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya:"Ada tiga perkara, barangsiapa yang tiga perkara itu ada di dalam diri seseorang, maka orang itu dapat merasakan manisnya keimanan iaitu: jikalau Allah dan RasulNya lebih dicintai olehnya daripada yang selain keduanya, jikalau seseorang itu mencintai orang lain dan tidak ada sebab kecintaannya itu melainkan kerana Allah, dan jikalau seseorang itu membenci untuk kembali kepada kekafiran setelah diselamatkan oleh Allah dari kekafiran itu, sebagaimana bencinya kalau dilemparkan ke dalam api neraka." (Muttafaq 'alaih) [Riyadhus shalihin hadits ke 374]
2:21 PM | 0 comments | Read More

Tentang Cinta

Written By Admin on Sunday, January 10, 2010 | 8:56 AM

Cinta adalah misteri terbesar dalam dunia. Sejak ribuan tahun yang lalu, para pujangga berusaha mengungkap cinta dengan syair-syair mereka, ribuan nyanyian tentang cinta telah didendangkan, namun makna cinta seakan tetap tersembunyi di dalam samudera yang dalam. Banyak orang yang mengucapkan kata cinta, namun hanya segelintir orang yang dapat merasakan manisnya. Kebanyakan hanya terjebak di dalam cinta palsu yang berbalut nafsu.
Lalu, apakah cinta itu? Sangatlah sulit mendefinisikan cinta, tetapi dapat dirasakan oleh para pencinta. Yaitu orang yang hatinya telah dipenuhi cahaya cinta, sehingga membersihkan segala debu nafsu yang hinggap di dalam kalbu. Cinta yang sejati hanyalah untuk Allah, bukan kepada manusia, harta dan tahta. Sangatlah menyedihkan apabila manusia hanya memenuhi hatinya dengan kecintaan terhadap dunia semata. Al-Qur’an beberapa kali menyebutkan kata cinta,

Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(Q.S. Al-Baqarah:165)

Orang yang sempurna imannya sangat mencintai Allah, karena hanya Dialah tambatan hati yang sejati. Seluruh hidupnya hanya digunakan untuk menintai Allah. Segala amal ibadahnya dilandasi kecintaan yang begitu mendalam kepada Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah telah menyindir manusia yang lalai, yang mencintai makhluk ciptaan Allah sebagaimana mereka mencintai Allah. Na’udzubillah..
Allah telah memberikan teladan bagi manusia. Segala alam semesta beserta isinya diciptakanNya karena cinta. Bagaimana tidak, manusia telah diciptakan di dunia dengan segala fasilitas yang lengkap. Allah memberi semua keperluan manusia dengan cuma-cuma, dan Allah tidak meminta apapun dari manusia. Allah tidak pernah memaksa manusia untuk menyembahnya. Orang kafir ataupun beriman akan tetap diberi nikmat oleh Allah.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah:256)

Subhanallah…! Betapa besar cinta Allah kepada makhlukNya. Namun betapa banyak manusia yang ingkar kepadaNya. Jangankan mencintaiNya, mengakui Allah sebagai Tuhan saja tidak. Itulah orang kafir yang mendapat siksa Allah di neraka kelak.
Bagi orang yang beriman, cinta kepada Allah adalah wajib hukumnya. Karena hanya dengan landasan cinta, manusia akan dapat beribadah dengan ikhlas dan istiqamah. Cinta tidak cukup hanya dengan kata-kata, namun harus digapai dengan amal ibadah kepada Allah, membersihkan segala kerak nafsu yang ada dalam kalbu, dan menyingkirkan segala sesuatu yang masuk ke dalam hati, yang akan merusak kecintaan terhadap Allah. Syarat utama meraih cinta Allah adalah dengan mamatuhi segala perintahNya dan menjauhi laranganNya, berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah.

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Q.S. Ali Imran:31)

Alangkah bahagianya orang-orang yang telah merasakan cinta kepada Allah, dan Allah pun begitu mencintai mereka.

Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.(Q.S Al-Maidah:54)



8:56 AM | 0 comments | Read More

Thariqah Alawiyah

Written By Admin on Tuesday, January 5, 2010 | 9:38 PM

Thariqah Alawiyah is one of 41 thariqah mu’tabarah in the world. This thariqah was founded by Ahmad Bin Isa Allah SWT-Muhajir in the 17th century. His complete name is Imam Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir from Hadramaut Yaman, so that this thariqah is called Alawiyah. This thariqah also called Thariqah Haddiyah, related from Sayyid Abdullah Allah SWT-Haddad.
Thariqah Alawiyah is often related with Alawiyyin, saadah, or sayyid, the prophet Muhammad descent, the upper strata in Hadrami society. So, in the beginning, most followers of this thariqah were from sayyid clan. Thariqah Alawiyah has a special wirid and dzikir. That is, there is not a must for student of this thariqah to take oath. This thariqah can be joined by everyone. It is not necessary to slearn from the teacher or mursyid. Stressing of this thariqah deed is on behavior. It is very different with other thariqah, which stresses on hard deed. Because of its simple deed, this thariqah has many followers.
In the next development, this thariqah has two branchs, Thariqah ‘aidarusiyyah and Thariqah ‘Atthahisiyyah.

The beginning development of Thariqah Alawiyah
The development of Thariqah Alawiyah was begun by Muhammad bin Ali, or called Al-Faqih Al-Muqaddam, in the 6th and 7th Hijriah. In his era, Hadramaut city was mostly known at the golden era. Muhammad bin Ali was known as an Islamic figure that had much knowledge about islam. He had highest level of spiritual experience, Maqam Quthbiyah.
After Muhammad bin Ali passed away, this thariqah was continued by masyayikh. The famous thariqah were Syaikh Abdurrahman As-Saqaf (739 H), Syaikh Umar Allah SWT-Muhdhar bin Abdurrahman As-Saqaf (833 H), Syekh Abdullah al-‘Aidarus bin Abu Bakar bin Abd al-Rahman al-Saqqaf (880 H), dan Syekh Abu Bakar al-Sakran (821 H). These masyayikh had much influenced the characteristic of this thariqah.
Some characteristics of Thariqah Alawiyah:
First, there is a tradition of thought of defending salafi doctrines from Alawy figures, like Quthbaniyyah.
Second, there is elastic attitude to the developing thought, so that this thariqah is easy to socialize with the society.
Third, there are some thoughts, like jam’u, farq, fana’ and wahdah.
9:38 PM | 0 comments | Read More

Thariqah Qadiriyah

Thariqah Qadiriyah was founded by Syeikh Abdul Qodir Jaelani (561 H/1166D.C). His complete name was Muhyiddin Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih Zango Dost al-Jaelani. He was born in 470 H/1077 D.C. He spent 25 years as a shufi, to spread tasawuf, till he was known as a great tasawuf figure. Besides that, Abdul Qadir also led Islamic school and ribath in Baghdad. Thariqah Qadiriyah soon spread to Yemen, Turkey, Egypt, Africa and Asia. Even this thariqah has developed since 13th century, but it spread to the entire world in 15th century. In India, this thariqah was developed by Muhammad Ghawts (1517 D.C). He was Abdul Qadir Descent. In Turkey, was developed by Ismail Rummy (1041 H/1631 D.C). in Mecca, this thariqah has begun since 1180 H/1669 D.C.

Tarekat Qadiriyah is known very flexible. If a student reaches level of sheikh, he doesn’t have to follow his teacher, or mursyid. Abdul Qadir said, “If my student reaches the level of sheikh, he will be sheikh of himself, and Allah will be his leader”. Perhaps, because of its flexibility, there are many thariqahs include into thariqah Qadiriyah. In India there are some thariqahs, like Banawa, which developed in 19th century, Ghawtsiyah (1517D.C), Junaidiyah (1515 D.C), Kamaliyah (1584 D.C), Miyan Khei (1550 D.C), Qumaishiyah (1584 D.C), Hayat al-Mir. In Turkey are some thariqahs, like Hindiyah, Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah (1631 D.C), Nabulsiyah, Waslatiyyah. In Yemen, there are Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah, 'Urabiyyah, Yafi'iyah (718-768 H/1316 D.C) dan Zayla'iyah. In Africa there are thariqah Ammariyah, Bakka'iyah, Bu' Aliyya, Manzaliyah and thariqah Jilala.

Some deeds of thariqah Qadiriyah is saying "Laa ilaha Illa Allah" loudly, it is called naïf itsbat. After five time praying, istighfar 3 times or more, shalawat 3 times, Laailaha illa Allah 165 times. When saying Lha at the sentence of Lha ilaha illallah, we have to concentrate, with deep breath from stomach to brain. Then when saying ilaha, we have to turn our head right, and when saying illallah, we have to turn our head left.
To do this thariqah deeds, someone has to follow some steps.
First, bai’at, a student must meet his teacher, then the student pray 2 raka’ats (shalat muthlaq), continued by reading al-Fatihah to prophet Muhammad PBUH. Then the student sits in front of teacher and says istighfar, then the teacher will teach to say “La ilaha illallah”. Then teacher will say "infahna binafhihi minka", continued by reading verse mubaya’ah (Quran, Chapter Al-Fath:10). Then the student has to say “La ilaha illallah” 3 times. After that the teacher will give some advises to the student, then closed by praying (du’a).
Second, course step, this step needs a long process for many years, because the student will receive truth teaching. He has to fight his passion, and always do religios deed (mujahadah-riyadhah).
9:21 PM | 0 comments | Read More
Grab this Widget ~ Blogger Accessories